Globalindobuzz.net, Jakarta - Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memasuki fase baru. Sekitar 9.000 personel militer AS bersama sejumlah kapal dikerahkan menuju Timur Tengah ketika Presiden Donald Trump kembali membuka kemungkinan peningkatan operasi militer terhadap Iran.

Di saat yang sama, gejolak tersebut berlangsung bersamaan dengan pergerakan harga minyak dunia. Harga minyak mentah Brent naik sekitar 1% menjadi US$103,53 per barel pada perdagangan Rabu, sementara West Texas Intermediate (WTI) meningkat 1% menjadi US$90,42 per barel.

Dua perkembangan ini memperlihatkan bagaimana konflik AS-Iran tidak hanya berkaitan dengan pengerahan kekuatan militer, tetapi juga berlangsung di tengah kondisi pasar energi yang masih ketat.

Adu Kekuatan di Tengah Ketegangan AS-Iran

Pengerahan terbaru AS membawa lebih dari 7.000 pelaut dan 2.000 Marinir menuju Timur Tengah.

Armada tersebut mencakup gugus tempur kapal induk USS Theodore Roosevelt bersama kapal penjelajah USS Chosin. Selain itu, kelompok kesiapan amfibi USS Makin Island turut bergerak dengan USS John P. Murtha dan USS Anchorage.

Menurut pejabat AS, pengerahan itu berpotensi membuat tiga kapal induk berada di kawasan tersebut paling cepat pada akhir Oktober.

Jika terealisasi, kekuatan angkatan laut AS di Timur Tengah akan mencapai lebih dari 20.000 pelaut dan Marinir, disertai ratusan pesawat.

Sebelumnya, AS telah menempatkan tiga gugus tempur kapal induk di kawasan tersebut pada April. Penempatan itu disebut menjadi yang pertama sejak 2003.

Saat ini USS George H.W. Bush dan USS George Washington juga berada di kawasan bersama kelompok kesiapan amfibi USS Boxer. USS George Washington yang biasanya ditempatkan di Pasifik dipindahkan ke Timur Tengah untuk menggantikan USS Abraham Lincoln setelah awak kapal tersebut menjalani penugasan lebih dari 260 hari berturut-turut di laut.

Baca Juga: Iran Peringatkan Negara Kawasan soal Pembatasan Penerbangan

Trump Kembali Membuka Kemungkinan Serangan

Pengerahan militer tersebut berlangsung ketika Trump kembali menyampaikan kemungkinan meningkatkan serangan terhadap Iran.

Dalam wawancara dengan majalah Time yang diterbitkan Kamis, Trump mengatakan peningkatan pengeboman terhadap Iran setelah pemilu 3 November “mungkin saja” terjadi.

Trump sebelumnya juga mengatakan eskalasi setelah pemilu tetap menjadi salah satu pilihan, meski sebelumnya menjanjikan operasi militer hanya berlangsung beberapa pekan.

Ketika ditanya mengenai strateginya, Trump tidak memberikan rincian mengenai sasaran yang mungkin menjadi target.

Ketegangan semakin meningkat setelah Trump mengatakan indikasi awal menunjukkan adanya keterkaitan Iran dengan insiden yang melibatkan kopilot FlyDubai. Kopilot tersebut disebut menikam kapten pesawat dan berusaha menjatuhkan penerbangan tujuan Israel pada Rabu.

Ketika ditanya apakah pelaku memiliki hubungan dengan Teheran, Trump mengatakan, “Saya akan mengatakan jawabannya, berdasarkan apa yang saya dengar, adalah 'ya', tetapi kami masih menyelidikinya sekarang.”

Trump juga mengatakan AS akan memberikan respons jika keterlibatan Iran terbukti.

Sebelumnya, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan kepada Fox News bahwa penyelidik meyakini tersangka telah mengalami “indoktrinasi Islamis radikal”. Ia tidak memberikan rincian lebih lanjut.

Trump kemudian mengeluarkan pernyataan keras mengenai kemungkinan respons terhadap Iran.

"Oh, mereka akan dihantam sangat keras, jangan khawatir," kata Trump seperti dilaporkan Associated Press.

Proposal Gencatan Senjata Ditolak

Di tengah pengerahan militer, jalur diplomasi juga belum menunjukkan titik temu.

Trump mengatakan dirinya menolak proposal gencatan senjata terbaru Iran. Menurut Trump, tawaran tersebut masih memuat hal-hal yang tidak dapat ia setujui.

Salah satu bagian proposal yang disebut Trump adalah tawaran Iran untuk “membuka” Selat Hormuz. Namun, Trump menilai keseluruhan tawaran tersebut masih belum cukup.

Perang juga menjadi isu politik menjelang pemilu paruh waktu AS.

Ketika ditanya apakah konflik yang semakin tidak populer dapat mengancam peluang Partai Republik pada November, Trump menjawab “mungkin saja”. Namun, ia kemudian mengatakan konflik tersebut “seharusnya membantu” karena Iran tidak akan memiliki senjata nuklir.

Trump mengatakan masyarakat menolak Iran memiliki kemampuan melancarkan serangan nuklir.

Dengan demikian, perkembangan konflik berlangsung bersamaan dengan tekanan politik domestik di Amerika Serikat menjelang pemilu.

Ketegangan Militer Merembet ke Harga Minyak

Dampak perkembangan AS-Iran tidak berhenti pada pergerakan kekuatan militer dan diplomasi. Pasar minyak juga merespons situasi tersebut.

Harga minyak berjangka Brent untuk pengiriman November yang berakhir pada Rabu naik sekitar 1% menjadi US$103,53 per barel. WTI juga naik sekitar 1% menjadi US$90,42 per barel.

Dalam sebulan, Brent menguat lebih dari 14%, sedangkan WTI naik lebih dari 5%.

Kenaikan tersebut terjadi ketika perundingan damai antara AS dan Iran mengalami kebuntuan dan pasar bahan bakar AS semakin ketat.

Qatar sebelumnya menyatakan harapan agar diplomasi antara Teheran dan Washington menghasilkan terobosan. Namun, Trump membantah laporan Axios dan CNN yang mengutip pejabat AS mengenai kemungkinan pemberian keringanan sanksi serta pencairan dana Iran yang dibekukan sebagai imbalan atas langkah konkret Teheran terkait program nuklir.

Pasokan Mulai Pulih, tetapi Pasar Energi Masih Ketat

Di tengah kenaikan harga minyak, terdapat perkembangan lain dari sisi pasokan.

Arab Saudi kembali mengirim minyak melalui kapal tanker dari pelabuhan Laut Merah, Yanbu, setelah mengaktifkan kembali East-West Pipeline.

Goldman Sachs memperkirakan ekspor minyak negara-negara Teluk telah pulih menjadi 23,3 juta barel per hari dalam sepekan terakhir. Angka tersebut disebut sejalan dengan rata-rata 2025 setelah ekspor meningkat dua kali lipat pada September.

JPMorgan memperkirakan rata-rata ekspor minyak dalam 10 hari terakhir mencapai 20,5 juta barel per hari, sekitar 89% dari level 2025.

Sementara itu, negara-negara produsen minyak OPEC+ diperkirakan mempertahankan target produksi November dalam pertemuan pada Minggu.

Analis MUFG menilai pemulihan arus minyak mentah dapat meredam tekanan harga yang berasal dari sisi pasokan. Namun, kekurangan produk dan tingginya biaya angkutan masih berpotensi membuat pasar energi secara keseluruhan tetap ketat.

Dua Jalur yang Terus Bergerak

Perkembangan terbaru menunjukkan dua jalur yang berjalan bersamaan dalam isu AS-Iran.

Di satu sisi, AS memperkuat kehadiran militernya dengan mengirim ribuan pelaut dan Marinir beserta kapal-kapal perang ke Timur Tengah. Di sisi lain, diplomasi masih menghadapi kebuntuan setelah proposal gencatan senjata Iran ditolak Trump.

Pada saat yang sama, harga minyak Brent telah berada di atas US$100 per barel dan mencatat kenaikan lebih dari 14% sepanjang September.

Namun, pasar juga mendapat sinyal dari sisi pasokan dengan pulihnya ekspor minyak negara-negara Teluk dan aktifnya kembali jalur pengiriman Arab Saudi.

Perkembangan selanjutnya akan bergantung pada arah konflik, keputusan Washington terhadap Iran, proses diplomasi, serta kondisi pasokan energi global.

Untuk saat ini, pengerahan kekuatan militer AS dan pergerakan harga minyak menjadi dua perkembangan yang berlangsung bersamaan di tengah ketegangan baru antara Washington dan Teheran.